
SRAGEN memiliki dua objek wisata alam dan sumber air panas alami
yang jarang dimiliki kabupaten lain di Jawa Tengah. Objek wisata alam itu
berada di Bayanan, Desa Jambean, serta Ngunut, Desa Jetis, Kecamatan Sambirejo.
Letak kedua objek wisata tersebut hanya terpisah sekitar 1,5 km. Kedua
objek berada sekitar 20 km arah tenggara Sragen Kota.
''Kalau Bayanan sudah dikelola secara profesional, sebaliknya Ngunut
seperti ditelantarkan,'' tutur Yatno, anggota Badan Perwakilan Desa (BPD)
Ngunut, Desa Jetis, kemarin.
Bayanan dan Ngunut cukup dikenal, karena memiliki sumber air hangat
mengandung belerang berkasiat menyembuhkan penyakit kulit. Pengunjung yang
sakit kulit cukup berendam di kamar mandi yang disediakan pengelola objek.
Adapun ongkos relatif murah Rp 2.500.
Di sekitar pemandian terdapat kawasan wisata hutan karet dan hutan
rakyat berhawa sejuk. Di kawasan ''Alaska'' atau alas karet yang rimbun
itu kerap dikunjungi muda-mudi untuk berpacaran.
Tidak jarang, lokasi di lereng sisi barat laut Gunung Lawu itu dipilih
orang kota untuk kegiatan hash, jalan sehat serta sepeda santai.
Yatno menyebutkan, tahun lalu ada seorang pendatang asal Cawas, Klaten
mengidap sakit kulit kronis. Dia beberapa kali mandi di Ngunut.
''Setelah sembuh, dia syukuran menyembelih kambing untuk dibagikan
warga sekitar pemandian Ngunut,'' tutur Yatno.
Dibantu Pengusaha
Di Bayanan juga menyediakan beberapa kamar mandi khusus dilengkapi
bathtub bagi orang yang berendam. Khasiat air belerang Bayanan untuk
menyebuhkan penyakit kulit, sama seperti di Ngunut. Tak mengherankan jika
banyak pengunjung penderita penyakit kulit asal Madiun, Solo, dan sekitarnya
bertandang ke Bayanan atau Ngunut.
Meski memiliki debit air cukup besar, Ngunut tidak dikembangkan seperti
objek wisata Bayanan.
Penangung jawab Objek Bayanan, Bambang Karpet mengakui, debit air Ngunut
lebih besar dan pemandangan alam sekitar dan tidak kalah bagus dari Bayanan.
''Tapi sayangnya belum ada investor bersedia mengembangkan Ngunut,'' tutur
Bambang.
Ternyata ada mitos yang menyelimuti bekas petilasan Prabu Brawijaya
asal Majapahit itu. Ngunut sebagai objek wisata kini merana karena mitos.
Ceritanya berawal pada 1973 silam. Semula Bupati Sragen Srinardi berniat
merenovasi Ngunut dan menyingkirkan sejumlah patung Hindu yang ada di Ngunut.
Tak lama berselang, Bupati Srinardi jatuh sakit hingga akhirnya meninggal.
Akibatnya renovasi Ngunut batal. Masyarakat telanjur menghubungkan penyebab
sakitnya Srinardi karena berupaya merenovasi Ngunut.
Mitos itu diyakini masyarakat. Siapa saja pejabat yang berniat mengutak-utik
Ngunut akan celaka.
Sejak itulah, pengganti Bupati Srinardi berturut-turut mulai PJs Bupati
Sragen Drs Hartono, Sayid Abbas, Suryanto PA, HR Bawono, dan H Untung Wiyono
tidak mau bersinggungan dengan Ngunut. Karena itu sumber air panas dari
perut bumi yang mengandung belerang, dibiarkan hilang percuma. Akibatnya,
Ngunut merana karena mitos. Investor pun tidak ada yang berani menanamkan
modal untuk menggarap Ngunut.
Nice bloog thanks for posting
ReplyDelete