
Klenteng Tri Dharma Avalokitesvara Surakarta itu di bangun mulai sebagai bagian dari infrastruktur pada masa perpindahan Kraton Surakarta Hadiningrat dari Kartasura ke Ponorogo dan kemudian ke desa Sala pada tahun 1745. Bangunan ini sudah berusia lebih dari 200 tahun.
Tempat yang sakral ini sampai sekarang masih tegak berdiri di tengah keramaian daerah China di pusat Kota Solo. Tepat di seberang jalan sudah kelihatan pintu utama Pasar Gede Solo, pasar tradisional terbesar dan kemungkinan juga tertua dengan segala keramaiannya.
Sampai
saat ini pula bangunan china ini masih menyisakan keindahan darimasa
lalunya. Wakil pengurus kelenteng, mengatakan betapa mengagumkannya
tempat persembahayangan disini. Selain untuk beribadah juga dapat
dinikmati keindahan seni ukiran yang ada di dalam. Sederetan
ukiran-ukiran indah ditiang-tiang penyangga atap kelenteng, ukiran-ukiran kayu memang indah. Paparan keindahan ini tampak begitu nyata jika dilihat dari dekat.

Di
Altar utama yang merupakan Tuan/Nyonya rumah adalah altar Bodhisattva
Avalokitesvara, Guan Shi Yin Pu Sa yang oleh penganut San Jiao atau Tri
Dharma lebih dikenal sebagai Makco Guan Yin atau Kwan Im dalam dialek
Hokkian. Makco Guan Yin yang duduk di altar utama ini adlaah Guan Yin
yang dalam perwujudannya sebagai Shi Zi Wu Wei Guan Shi Yin. Perwujudan
Avalokitesvara Simhananda adalah salah satu diantara 15 perwujudan
utama, diluar 33 perwujudan dari sang Avalokiesvara. Biasanya
avalokitesvara Simhananda digambarkan duduk diatas seekor singa atau di
atas sebuah singgasana.

Apabila
Sin Bing di Altar Utama berasal dari unsur Buddhisme nama dari
Kelenteng itu dalam Bahasa Hokkian berakhir dengan Sie, seperti halnya
Kelenteng Tien Kok Sie. Apabila Sin Bing di Altar Utama berasal dari
unsur Taoisme nama Kelenteng biasanya berakhir dengan Kiong seperti
Kelenteng Poo An Kiong di Coyudan Solo yang Altar Utama nya adalah
Mahadewa Kong Tek Cun Ong sang Mahadewa Pengusir Kejahatan dalam
Daoisme/Taoisme yang berkedudukan sangat tinggi dalam strata kedewaan
Daoisme/Taoisme. Sedang Kelenteng Dewa Bumi Fu De Zheng Shen – yang
lebih sering dikenal sebagai Kongco Hok Tek Cing Sin namanya dalam
dialek Hokkian biasanya disebut sebagai Hok Tek Bio. Bio merupakan nama
Kelenteng secara umum atau sebuah Kelenteng yang besar.
Di
sinilah terlihat betapa sistim keagamaan Tiongkok adalah suatu sistim
keagamaan yang sungguh pluralis dan sinkretis satu sistim yang menampung
dan memberi tempat untuk semuanya. Tiga menyatu di dalam Satu. Tri
Dharma. San Jiao. Ini sesungguhnya adalah suatu sistim keagamaan yang
sangat bagus, asalkan dipahami secara tepat dan benar.

Nah, setelah memahami keindahan yang dimiliki bangunan bersejarah terhadap tempat persembahayangan keturunan china
ini bukankah menambah rasa penasaran anda untuk datang kesana sendiri
dan membuktikannya kan ? Cukup datang ke pasar gede surakarta, dia ada
di sebelah selatannya.
0 comments:
Post a Comment
Tata tertib berkomentar :
1. Komentar harus relevan dengan konten yang dibaca
2. Gunakan bahasa yang baik dan sopan
3. Tidak mengandung unsur SARA or Bullying.
4. Dilarang SPAM. Exp: Nice gan, Makasih Gan, dll
5. Dilarang menyisipkan link pada isi komentar. Aktif ataupun tidak.
Berlakulah dengan bijak dalam menggunakan sarana publik ini. Baca dan pahami isinya terlebih dahulu, barulah Berkomentar. Terimakasih.